Kamis, 26 Februari 2015

Memilikimu

Aku mencintai sunset,
Menatap kaki langit, ombak berdebur.
Tapi aku tidak akan pernah membawa matahari pulang ke rumah.
Kalaupun itu bisa kulakukan, tetap tidak akan kulakukan.
Aku menyukai bulan,
Entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana.
Tapi aku tidak akan memasukkannya ke dalam ransel.
Kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan kulakukan.
Aku menyayangi serumpun mawar,
Berbunga warna warni, mekar semerbak.
Tapi aku tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar.
Tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah kulakukan.
Aku mengasihi kunang-kunang,
Terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap.
Tapi aku tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan.
Tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah kulakukan.
Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini.
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki.
Ada banyak sekali jenis suka, kasih, dan sayang di dunia ini.
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang.
Egois sekali, kawan, jika tetap kau lakukan.
Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari.
Tiada lagi indah langit tanpa purnama.
Juga taman tanpa mawar merekah.
Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang.
Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan menbiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati.
Selalu begitu, hingga akhir nanti.
-- Tere Liye, dalam "Dikatakan atau Tidak Dikatakan, itu Tetap Cinta"

Senin, 23 Februari 2015

Pertemuan itu...

Aku tak seperti Fatimah yang dicari, sedang ia umpama Ali yang dinanti..


Perbedaan yang terbentang luas memisahkan jurang yang teramat dalam untuk kemungkinan bagi kami untuk bersanding,

Dia "Sang Ali" saat di sekolah dikenal sebagai anak yang sangat aktif dalam organisasi, osis, pramuka, dan selain itu merupakan siswa yang duduk di jurusan IPA..
sedangkan q? saat sekolah dilembaga yang sama dengannya, keadaan kami sangat berbanding terbalik, jangankan aktif organisasi, dalam kegiatan pramuka saja aku sangat tidak berminat, terlebih lagi saat itu aku duduk di jurusan IPS dan hanya sebatas mengenal nama dan orangnya, itu saja.. tidak pernah bertegur sapa layaknya "teman", 

Sekali lagi, bila dilihat memang jurang pemisah diantara kami sangat dalam sehingga banyak yang bertanya tanya sekarang ini,
"Mba, sampean saiki karo Bang Noto?" (Mba, kamu sekarang pacaran sama Bang Noto-red)

Mungkin mereka heran, qoq bisa???

Jangankan orang lain yang menilai, terkadang jika difikir logispun saya sendiri heran, kenapa bisa saya bersanding dengannya sekarang ini? padahal dulu tidak pernah terlintas sama sekali dibenak saya bahwa saya akan memiliki sebuah "obrolan" yang sangat panjang dengannya, sehingga memunculkan rasa yang fitrah itu..

Mungkin titik pertama yang mengawali semuanya adalah komentarnya di foto yang ku unggah di akun media sosial ku, setelah itu menghadiri pernikahan Guru kami di sekolah dulu, penuturan penuturan singkatnya yang mengingatkan Rabu Wekasan, pertanyaan pertanyaan sederhananya yang menggugah hati, menyadarkan betapa hati ini telah jauh meninggalkan Yang Maha Pencipta, mungkin secara kasat mata semua kegiatan pendekatan diri kepada-Nya saya lakukan, namun entah mengapa hati ini sangat tersontak kaget dengan pertanyaan pertanyaan sederhananya yang menggugah hati.

Bukan, bukan hanya pertanyaan tetapi juga tuntunan..
ya, tuntunan, pertanyaan pertanyaan itu disertai teladan yang jelas terpancar dari setiap tuturannya, membuat hati ini menjadi "minder",
Namun herannya "keminderan" itu tidak membuatku sontak menjauh dari sosoknya, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, karena aku akui jika seseorang membuatku minder maka sontak diri ini akan berusaha menjauh, dan kali ini BERBEDA, justru "keminderan" itu membuatku ingin terus dan terus mendengar penuturannya, mengenalnya lebih dalam lewat "obrolan" yang panjang..